Duka Sakit Gigi di Swedia

Duka Sakit Gigi di Swedia

Terakhir kali merasakan sakit gigi ketika kelas 2 SMP dan sejak saat itu selalu rutin check up ke dokter gigi setiap 6 bulan. Bahkan ketika saya memutuskan dan diterima untuk melanjutkan studi ke Swedia, rutinitas ini termasuk dalam top list yang saya khawatirkan tidak bisa saya lakukan secara rutin. Alhasil seminggu sebelum berangkat ke Swedia, saya memeriksakan diri ke dokter gigi dan memastikan kondisi gigi baik dan siap untuk dibawa “berperang” ke belahan dunia yang lain.

Jika Allah berkehendak, siapa yang bisa mengelak. Walaupun dokter gigi di Indonesia memvonis semua baik-baik saja, gigi saya terasa sakit dan nyeri di bulan keempat berdomisili di Swedia.

Menderita.

Sebenarnya penderitaan tidak hanya dikarenakan sakit gigi, tetapi saya sadar harus melalui “birokrasi berlapis” untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di negara maju ini. Ketika “negara maju” terlintas di pikiran kalian, maka yang terbersit adalah negara tersebut memiliki pelayanan terbaik dan cekatan dalam berbagai aspek. I’m sorry that i destroy your dreams about developed country, baby. Sebelum berangkat pun saya sudah diperingatkan senior, alumni, dan testimoni di google mengenai pelayanan kesehatan di negara ini. Antre, lama, bahkan tak jarang treatment baru bisa diperoleh berbulan-bulan kemudian.

Hal pertama yang saya lakukan adalah googling cara mengakses pelayanan ke dokter gigi. Yang saya peroleh adalah:

  1. Membuat appointment di public dental clinic (Folktandvården) yang terdapat di berbagai penjuru kota.
  2. Cara membuat appointment adalah dengan masuk ke website http://www.lul.se/sv/folktandvarden/ (Ps: di headingnya sih ini untuk Regional Uppsala, tapi kurang paham juga ya karena sepengetahuan saya sistem seperti ini berlaku se-Swedia)(akses melalui Google Chrome supaya page langsung di translate ke Bahasa Inggris) dan pilih Make an Appointment. Kemudian klik list dental clinics.
  3. Paralel dengan poin nomor 2, bisa klik Treatment yang terdapat di heading bar untuk mengetahui kira-kira klinik mana yang memiliki fasilitas untuk jenis treatment dari sakit gigi yang dikeluhkan.
  4. Setelah mengetahui klinik mana yang bisa memberikan treatment sesuai kebutuhan, maka coba trial and error untuk membuat appointment di klinik-klinik tersebut. Kenapa trial and error? Karena bisa saja suatu klinik baru bisa melayani 3 bulan kemudian (yakali nahan sakit gigi sampe 3 bulan)
  5. Beruntungnya (walaupun sebenarnya sepertinya ini bukan keberuntungan. Entahlah. Lanjutkan baca untuk mengetahui kenapa ini bukan keberuntungan seutuhnya) ada klinik yang bisa memberikan treatment 2 hari kemudian.
  6. Booked appointment dengan memasukkan data pribadi.

Hari appointment pun tiba. Sungguh besar ekspektasi saya untuk pulang dari klinik dalam keadaan gigi sudah baik-baik saja. Namun, realita tidak seindah itu. Perjuangan belum usai.

Saya masuk ke ruang praktek dokter gigi. Prosedur pertama pemeriksaan gigi di Swedia adalah X-Ray pada bagian gigi yang terasa nyeri. Hal ini tentu baru pertama kali saya alami walaupun setiap 6 bulan “meet up” dengan dokter gigi di Indonesia yang langsung bisa mengetahui apa yang terjadi pada gigi yang terasa nyeri tanpa bantuan alat (warbiyasak emang dokter gigi Indonesia). Berdasarkan hasil X-ray tersebut, tampak saraf dalam gigi saya “bertabrakan” dengan gigi lain. Solusinya adalah “membersihkan” saraf tersebut dan diisi dengan “akar buatan”. Istiah kece nya adalah root canal treatment. (Dear para dokter gigi di luar sana, maafkan bahasa saya yang begitu awam dan mungkin tidak tepat dalam menjelaskan kondisi pergigian).

Sayangnya, treatment tidak bisa dilakukan saat itu di klinik tersebut. Dokter gigi di Folktandvården menjelaskan bahwa beliau hanya memberikan emergency treatment dan saya harus mencari private dental clinic untuk mendapatkan treatment secara keseluruhan. Kenapa saya harus ke private dental clinic? Di Folktandvården, mereka baru bisa memberikan treatment satu tahun kemudian dikarenakan mereka menghandle 12.000 pasien yang sudah anter (jadi, ketika kamu sakit gigi di Swedia, saya sarankan untuk langsung ke private dental clinic aja. Berdasarkan testimoni teman yang berwarga negara Swedia, harga di public dan private dental clinic juga tidak terlalu jauh berbeda).  OH,MEN! Ku kangen klinik dokter gigi di Indonesia yang bisa ditemui setiap sekian kilometer dan buka tiap sore. Modal tahan antre sekian menit atau jam, langsung bisa dikasi treatment.

Bukan hanya masalah waktu, hidup di negara maju juga harus korban materi aka u-a-n-g. Saat itu dokter gigi di Folktandvården menyarankan saya untuk mendaftarkan diri di Försäkringskassan atau Swedish Social Insurance Agency agar tidak perlu membayar penuh terhadap treatment yang diberikan dan mendapatkan subsidi dari pemerintah. Namun, ketika saya membuka website, sungguh mengejutkan. Ulala~~. Apalah daya rakyat jelata dari negara non EU tak bisa di cover pemerintah setempat. Ya sudah, saya otomatis tidak mengikuti saran dokter. Toh terdaftar pun biaya treatment saya tidak tercover.

Dengan berbagai pertimbangan dan demi produktivitas, saya memutuskan untuk mencari private dental clinic dengan resiko ya-udahlah-bismillah-yang-penting-sembuh-mungkin-kurang-sedekah (sambil menangis dalam hati). Bermodalkan google dan rate bintang serta testimoni di facebook, saya memutuskan untuk membuat appointment di Tandvårdshuset Norby via website klinik tersebut. Saat itu hari Jumat dan sudah menunjukkan pukul 15.30. Tentu appointment tidak bisa ditindaklanjuti di negara yang kalo hari Jumat, pelayanan udah kelar jam 13.00 (Mall aja tutup jam 19.00 atau jam 20.00 kalo weekend. Huft)

Hari Senin saya ditelpon oleh klinik tersebut dan mendapatkan appointment hari Rabu. Apakah di hari Rabu itu saya sudah bisa mendapatkan treatment? Oh, tentu tidak semudah itu, kawan. Hari Rabu itu saya hanya dicek, tidak mendapatkan treatment. H-U-F-T.

Saat dicek hari Rabu, saya harus membuat appointment lagi untuk treatment. In less than a week before winter holiday, between journal club and review paper project presentation, I have to make an appointment with a dentist.

So, I’m making an appointment at next Tuesday and today is Saturday. Wish me luck for my appointment!

And for everyone who has plan to study abroad, please:

  1. Make sure that you have checked yourself in general practitioner and dentist in your home country.
  2. Understand about the health system in the country where you study (as early as possible. Don’t wait until your body suffers!)
  3. Save your monthly income. Not only for your future, but also for emergency case (being sick in another country will make you broke,literally)!

Leave a Reply