You are currently viewing Kecetit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Lumbal di Usia Muda

Kecetit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Lumbal di Usia Muda

Gak pernah kebayang di usia yang belum menginjak kepala 3 (masih tergolong muda kan ya?) udah ngerasain nyeri di pinggang bawah (low back pain) sampai mengganggu aktivitas. Usut punya usut ternyata Hernia Nucleus Pulposus (HNP) Lumbal, khususnya di L4-L5-S1, atau istilah akrabnya adalah syaraf kejepit. Mayan juga lika-liku dari awal terasa keluhan nyeri sampai didiagnosis dokter. Per hari ini, nyerinya juga masih betah kerasa di pinggang bawah belakang. Please for anyone who hasn’t suffered, learn from my experience and take care of your body! Trust me, you don’t want to go through this pain in your whole life!

Awal Mula Terasa Keluhan di Pinggang

Sepanjang malam aku tidur dengan posisi meringkuk karena males narik selimut. Saat terbangun, pinggang belakang terasa sakit banget. Gak nyaman banget kalo membungkuk. Jangankan posisi rukuk, membungkuk sedikit untuk sikat gigi pun terasa nyeri. Pada kondisi normal, duduk kelamaan (sekitar 1 jam) memang kerasa capek, tapi pasca insiden bangun-bangun sakit pinggang ini duduk 15 menit pun pinggang rasanya udah menyerah. Bawaannya pengen tengkurep terus.

Lokasi rasa nyeri. Sumber: link

Awalnya kupikir ini gara-gara salah posisi tidur. Mungkin kalo badan diajak peregangan atau istirahat, ntar juga sembuh sendiri. Apalagi sakitnya kebetulan muncul seminggu sebelum menstruasi, jadi kupikir ah palingan gejala jelang menstruasi. Walaupun sebenarnya cukup mencurigakan karena keluhanku jelang atau saat menstruasi selama ini selalu hanya kram perut, gak pernah sakit pinggang. Tapi siapa tahu ya kan? Jadi ya udah, sengaja aku biarin minimal sampe selesai menstruasi dengan harapan keluhannya akan hilang sendiri. Tapi kok setelah satu bulan nyerinya tetap terasa. Udah mempraktekkan berbagai gerakan yang dianjurkan untuk penderita sakit pinggang di youtube, tetap aja masih kerasa nyeri.

Dua bulan berlalu sejak nyeri pinggang belakang muncul, akhirnya aku memutuskan ke dokter spesialis orthopedi di rumah sakit terdekat.

Pemeriksaan oleh Dokter Spesialis Ortopedi

Saat pertama kali berkunjung ke dokter ortopedi, aku menceritakan keluhan di low back dan terasa sakit sekali saat membungkuk. Dokter menanyakan apakah rasa sakitnya menjalar ke kaki dan aku jawab nggak karena memang sakitnya hanya terpusat di bagian tengah pinggang atau tepat sedikit di atas bokong. Dokter menyarankan untuk pemeriksaan lebih jauh dengan MRI supaya bisa didagnosis lebih akurat. Memang MRI mahal, tapi daripada salah treatment maka MRI adalah pilihan yang tepat.

Dokter memberikan surat rujukan untuk dibawa ke unit radiologi. Di sana, aku ditawarkan slot waktu yang tersedia untuk MRI, yaitu berjarak 3 hari dari hari pemeriksaan ke dokter. Karena slot waktu tersebut adalah pilihan yang paling cepat jadi aku ambil aja.

Pemeriksaan dengan MRI

Awalnya, kupikir hasil MRI akan keluar cukup dalam waktu 1-2 jam setelah pemeriksaan sehingga aku bisa langsung membuat janji temu dengan dokter untuk berkonsultasi di hari yang sama supaya semua cepat beres dan jelas pengobatan yang cocok untuk aku apa. Sayangnya, petugas radiologi memberi tahu bahwa hasil diperkirakan akan keluar dalam waktu 2-3 hari. Kalau hasil keluar lebih cepat, aku akan mendapat pemberitahuan via whatsapp. Ya sudahlah rencana awal dibatalkan dan mau tidak mau menunggu beberapa hari sampai mendapatkan konfirmasi kapan hasil MRI-nya keluar.

Setelah menyerahkan bukti pendaftaran sesuai dengan slot waktu yang dijanjikan, aku diminta untuk ke ruang MRI dan mengganti pakaian dengan pakaian khusus MRI. Pemeriksaan dengan MRI berlangsung selama 30 menit. Setelah selesai, aku pun pulang.

Baru dua jam pulang, aku mendapatkan notifikasi whatsapp dari rumah sakit yang memberi tahu bahwa hasil MRI sudah keluar. Hadeeeeh tau gitu kan rencana awalku bisa dieksekusi untuk ketemu langsung dengan dokter di hari yang sama. Tapi karena terlanjur mager, jadi konsul ke dokter sekalian mengambil hasil MRI dieksekusi besoknya aja.

Vonis HNP L4-L5-S1 dan Sesi Tanya-Jawab dengan Dokter SpOT

Bermodalkan hasil MRI, aku berkonsultasi dengan dokter dan dokter langsung menyatakan bahwa aku mengalami Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang biasa akrab disebut syaraf kejepit. Dari hasil MRI, keliatan bantalan lapisan tulang belakang (nucleus pulposus) yang menonjol dan menekan syaraf tulang belakang sehingga memicu sensasi nyeri. Dokternya bilang bahwa nyeri ini umum banget terjadi, hampir 80-90% orang pernah merasakannya dan biasanya sembuh dengan sendirinya setelah 6 minggu (tapi ku udah 8 minggu belum sembuh juga huhu).

Secara klinis, penyakit ini gak bakalan sembuh. Ya kondisi bantalannya akan terus menonjol selamanya. Yang bisa hilang hanya rasa nyerinya aja.

Aku: dok, terus caranya supaya nyerinya hilang gimana ya?

Dokter: ini saya kasi rujukan fisioterapi enam kali, dilakukan 2 kali seminggu. Kamu juga harus rajin renang dan yoga supaya otot pinggangnya kuat.

Aku: dok, ini kan saya baru married yah. Kalau hamil, nanti gimana? Pengaruh gak?

Dokter: pengaruh. Jadi kamu harus menyiapkan otot pinggang kamu, yaitu dengan cara rajin-rajin renang dan yoga.

Aku: ini pemicunya apa ya?

Dokter: biasanya karena sering mengangkat beban berat, postur tubuh yang membungkuk, dan kelamaan duduk. Mulai sekarang udah gak boleh angkat yang berat-berat. Maksimal 10 kg lah. Postur saat mengangkat beban juga harus benar ya.

Yah begitulah rangkuman sesi tanya-jawabnya. Setelah itu, aku dikasi resep beberapa obat pereda nyeri dan surat rujukan ke fisioterapi deh.

Refleksi Kebiasaanku Pemicu HNP alias Syaraf Kejepit

Kalau dipikir-pikir dan direnungkan, memang banyak kebiasaan burukku yang memicu si syaraf kejepit ini. Maklum, baru sadar dan menghayati gaya hidup sehat dua tahun terakhir, itupun di masa aku hidup sendiri yang menuntut harus apa-apa angkut beban berat sendiri.

Kebiasaan burukku sebelum tobat dan divonis HNP atau syaraf kejepit. Gambar hanya ilustrasi (beban berat yang ku maksud tentu bukan sekedar buku seperti di gambar ya ehehe, tapi koper yang beratnya bisa mencapai 40 kg).
  • Postur tubuh membungkuk

Postur tubuhku jelek banget, terutama saat duduk. Sekolah dan kuliah kalo ditotal berapa tahun itu, tiap duduk di meja belajar hampir selalu dengan postur membungkuk. Belum lagi saat naik motor. Kalau duduk waktu nonton televisi atau pas lagi pake iPad atau baca buku malah posturnya makin aneh lol. Jangan ditiru ya!

  • Membawa beban berat

Kemandirianku dimulai saat nge-kos jaman SMA dan sejak saat itu udah biasa angkut-angkut galon sendiri. Waktu di Indonesia, masih mending sekedar geser-geser perabotan sendiri. Di Swedia malah pindahan angkut semua-semua dari baju berkoper-koper hingga perabotan turun-naik bus sendirian. Di bandara bisa angkut-angkut koper yang beratnya sampe 40 kg sendirian. Apalagi postur saat mengangkat bebannya jelek. Duh, parah banget lah!

  • Duduk kelamaan

Dulu kalo nge-laptop bisa duduk dengan postur yang buruk selama 6 jam non-stop. Ampun, kalo diinget-inget, jelek lah gaya hidupku dulu.

Usahaku Meredakan Nyeri HNP

  1. Sebelum memulai fisioterapi, aku udah nonton beberapa video di youtube untuk meredakan nyeri di pinggang. Ternyata, gerakan-gerakan yang sama juga disarankan oleh fisoterapisku saat sesi fisioterapi. Postur tubuh saat duduk, berdiri, tidur, dan bangun tidur juga harus diperhatikan. Beberapa gerakan tersebut bisa dilihat di video-video berikut:

2. Rutin renang seminggu sekali.

3. Memakai korset khusus untuk low back pain (disebut juga lumbar corset) seperti di gambar di bawah ini. Bukan korset yang buat pake kebaya yaa.

Korset untuk low back pain. Ada juga yang menyebutnya lumbar support.

Di sesi fisioterapi ke-3, fisioterapisku menyarankan untuk mengenakan korset saat beraktivitas, cukup dilepas saat tidur. Setelah dua hari, rasa nyerinya hilang signifikan. Kurang paham juga sih ini sekedar kebetulan setelah dibarengi fisioterapi dan renang atau emang karena korsetnya, tapi emang nyaman banget di pinggang. Tapi, korset ini hanya boleh dipake saat rasa nyeri muncul. Kalau sudah hilang rasa nyerinya, korset gak perlu dipakai sehingga tidak ketergantungan. Ku sekarang berusaha menjaga postur tubuh yang baik sih.

Per hari ini, aku sudah gak merasakan nyeri setelah empat kali fisioterapi, dua kali berenang, dan lima hari setelah pertama kali memakai korset (udah dua hari ini aku gak pake korset sih). Semoga gak kambuh lagi. Aamiin.

Take care everyone! Thanks for reading!

Leave a Reply