You are currently viewing [Review Buku Pale Rider] Apa yang Terjadi Saat Pandemi Spanish Flu Seratus Tahun Lalu?

[Review Buku Pale Rider] Apa yang Terjadi Saat Pandemi Spanish Flu Seratus Tahun Lalu?

“Pelajaran berharga dari pandemi yang terlupakan menelan korban lebih banyak dari akumulasi korban Perang Dunia I dan II”

Judul buku: “Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How It Changed The World”

Penulis: Laura Spinney

Tanggal rilis: 12 September 2017

Jumlah halaman: 332 halaman

Sekitar seratus tahun yang lalu, tepatnya tahun 1918, dunia diinvasi oleh pandemi Spanish Flu sebagai “serangan” paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Wabah Spanish Flu mulai dideteksi pada tanggal 14 Maret 1918 dan berakhir sekitar Maret 1920. Selama dua tahun, penyakit ini menginfeksi sekitar 500 juta manusia dan menelan 50-100 juta nyawa atau setara dengan 2,5-5% populasi dunia. Angka tersebut melebihi jumlah akumulasi dari korban meninggal Perang Dunia I (17 juta orang) dan Perang Dunia II (60 juta orang). Melalui data tersebut, Laura Spinney menekankan kekecewannya terhadap begitu banyak monumen yang didirikan untuk mengingat korban akibat pecahnya peperangan, tetapi tidak ada monumen yang mengingatkan manusia untuk belajar dari wabah virus yang menelan jauh lebih banyak nyawa dari korban perang.

Ada beberapa fakta menarik yang dituliskan oleh Laura Spinney di Pale Rider, seperti:

  1. Spinney menuturkan secara rinci sejarah penyebaran virus dari awal mula cara manusia bertahan hidup. Dahulu kala, manusia bertahan hidup dengan berburu, berpindah-pindah, dan tinggal saling berjauhan. Hal ini berubah sejak 12 ribu tahun yang lalu ketika manusia mulai mengenal bertani, bercocok tanam dan mulai menetap. Kemampuan menetap dan hidup saling berdekatan inilah yang menjadi pemicu munculnya penyakit baru yang di kala itu disebut dengan crowd disease atau penyakit yang timbul akibat berkumpulnya manusia secara berdekatan. Beberapa contoh crowd disease adalah influenza, cacar, campak, tuberkulosis dan Spanish Flu.
  2. Penulis juga mengungkap sistem penamaan wabah virus yang dapat berakibat buruk terhadap pandangan masyarakat dalam menangani penularan virus. AIDS distigmakan sebagai penyakit yang menginfeksi komunitas homoseksual. Padahal heteroseksual memiliki kasus tertinggi dan merupakan salah satu pemicu utama penularan HIV/AIDS. Stigma ini tak hanya terjadi pada HIV/AIDS, tapi juga pada kasus Swine flu yang terbukti ditularkan oleh manusia, bukan babi. Walaupun begitu, beberapa negara tetap melarang impor daging babi setelah wabah Swine Flu merebak pada tahun 2009. Oleh karena itu, untuk menghindari efek jangka panjang di masyarakat akibat penamaan penyakit yang tidak tepat, WHO merilis guideline penamaan penyakit agar tidak menggunakan nama tempat, orang, hewan, atau makanan. Selain itu, kata yang mengakibatkan ketakutan, seperti ‘fatal’, juga tidak diperkenankan. Tentu guideline ini belum dirilis di tahun 1918 ketika flu tiba di Spanyol pada bulan Mei 1918. Penduduk Spanyol percaya bahwa flu tersebut berasal dari luar Spanyol yang nyatanya memang benar adanya karena flu tersebut sudah menyebar di Amerika dua bulan sebelum menginfeksi warga Spanyol. Namun, pada saat itu, Spanyol merupakan salah satu negara yang netral saat peperangan terjadi di masa pandemi sehingga media Spanyol tidak menyensor pemberitaan terkait wabah virus. Berbeda dengan sebagian besar negara Eropa dan beberapa negara di benua lainnya yang terlibat perang dan saling bermusuhan sehingga tidak menyiarkan pemberitaan terkait penyakit menular yang terjadi untuk menghindari judgement moral pada negara tersebut. Tak heran salah seorang petinggi di bidang kesehatan di Spanyol memberikan laporan kepada Royal Academy of Medicine di Madrid bahwa tidak ditemukan kasus serupa di negara lain di Eropa. Seolah persebaran virus hanya terjadi di Spanyol.
  3. Spanish Flu menginfeksi manusia di berbagai belahan dunia dalam tiga gelombang dan beberapa negara melaluinya dalam empat gelombang. Gelombang infeksi pertama terjadi pada bulan April hingga Mei 1918 dengan level insidensi relatif ringan dan tidak menimbulkan kepanikan. Memasuki musim panas (sekitar bulan Juni-Juli 1918), tingkat penyebaran mulai mereda walau belum sepenuhnya kembali normal. Pada bulan Agustus 1918, gelombang kedua dimulai dan lebih mematikan. Pada akhir Desember 1918, dunia mulai bebas dari Spanish Flu. Pihak Australia mulai melonggarkan kebijakan karantina pada awal 1919 yang sayangnya ini merupakan saat dimana gelombang ketiga dimulai dengan tingkat virulensi berada di antara gelombang pertama dan kedua. Beberapa negara bahkan melalui gelombang infeksi keempat pada akhir tahun 1919 hingga awal 1920. Negara yang berada di belahan bumi bagian selatan menyusul dengan durasi gelombang keempat yang lebih panjang. Brazil hanya mengalami gelombang virus sekali yaitu pada musim gugur 1918 sedangkan Chile mengalami gelombang kedua sepanjang tahun 1919. 
  4. Spanish flu dideskripsikan memiliki gejala awal seperti demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Sebagian besar yang terinfeksi flu ini saat gelombang pertama infeksi dapat sembuh. Namun, ketika penyakit ini kembali pada bulan Agustus (gelombang kedua), gejala yang ditunjukkan pasien mulai memburuk dan cenderung menyerupai pneumonia dan perubahan warna pada daerah pipi (heliotrope cyanosis). Gejala ini menjadi salah satu dasar prognosis. Apabila warna pipi didominasi merah, maka peluang sembuh semakin besar. Namun, jika perubahan warna yang terjadi adalah biru agak keunguan, maka harapan hidup akan semakin kecil. Perubahan warna ini juga terjadi pada tangan, kaki, dan kuku. Tidak sampai di situ, dada mayat korban Spanish Flu harus ditekan sebanyak dua kali sebelum dimakamkan. Proses otopsi menunjukkan bahwa dada yang membengkak diakibatkan oleh pembengkakan paru-paru yang penuh terisi darah seolah korban meninggal akibat tenggelam dalam cairan tubuhnya sendiri. 
  5. Spanish Flu tidak hanya menelan korban karena infeksi virus itu sendiri, tetapi juga depresi. Seorang pengacara di Switzerland bernama Laghi memotong tenggorokannya sendiri. Sedangkan, seorang pegawai toko yang bekerja di London tidak masuk kerja sehari dan usut punya usut ternyata ia naik kereta ke arah selatan untuk loncat ke laut. Tak jauh berbeda, seratus tahun kemudian dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19, fakta ini mengingatkan banyaknya tenaga medis dari berbagai negara yang mengakhiri hidup akibat guncangan psikis menangani pasien coronavirus.

Melalui Pale Rider, Laura Spinney memberikan contoh tindakan yang dilakukan oleh beberapa pemerintahan di berbagai negara dalam mengatasi pandemi ini. Tidak hanya itu, pandemi Spanish Flu menyadarkan pentingnya statistik dalam mengungkap jumlah korban wabah virus dan kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah berwenang. Disiplin ilmu virologi dan epidemiologi juga mulai berkembang signifikan seiring dibutuhkannya kontribusi para ahli dalam mengatasi persebaran virus ini.

Pale Rider adalah buku yang sangat tepat dibaca di masa pandemi COVID-19. Sebenarnya akan lebih tepat jika dibaca tepat saat buku ini rilis tahun 2017 dan kita semua dapat belajar dan bersiap dalam mengatasi pandemi tak terduga dari sejarah. Banyaknya fakta yang disajikan oleh penulis dapat membuat pembaca termangu. Seratus tahun telah berlalu, chaos yang diakibatkan dalam usaha menangani pandemi masih saja terjadi, misalnya kurangnya kesadaran usaha kolektif dalam menjalani karantina. Melihat berbagai perkembangan yang terjadi pada pasien Spanish Flu, dari awal gelombang pertama hingga gelombang ketiga atau keempat, mungkin kita diam-diam berdoa dalam hati agar diagnosis dan prognosis COVID-19 tidak memburuk seperti Spanish Flu.

Jika bumi masih berputar dan pandemi kembali terjadi seratus tahun dari sekarang, akankah anak-cucu kita menghadapinya dengan lebih baik?

Leave a Reply